JoomlaLock.com All4Share.net

Split Personality Pada Media Sosial Featured

Tidak dapat kita pungkiri bahwa internet adalah kebutuhan primer kita. Apa yang –biasanya-tidak dapat kita lakukan di dunia nyata dapat kita lakukan di dunia maya, apalagi dewasa ini kita disuguhi beberapa situs jejaring sosial semisal Facebook, Twitter, WhatsApp, Instagram, Path, Line dan seterusnya. Sebenarnya siapakah kita di dunia cyber? Akun kita itu apakah avatar kita? atau akun kita mewakili bagian dari hasrat kita yang kita wujudkan dalam bentuk cyber-personal?

Setiap orang punya banyak sisi. sebagian dari sisi diri kita tak mudah diwujudkan dalam dunia nyata. Internet, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, memberi kita cara untuk mewujudkan banyak hasrat yang selama ini hanya berupa potensi. Bayangkan seperti ini. Engkau adalah pendiam, tetapi tidak pernah ada orang yang benar-benar pendiam secara absolut. Mungkin kau ingin bicara, tetapi ada rasa malu atau kurang percaya diri ketika harus berkumpul dan dilihat banyak orang. Kemudian tiba-tiba ada facebook, twitter, myspace, Skype dan yang semacam itu. Kau pun punya saluran untuk mengoceh apa saja tanpa perlu merasa malu, dan yang kau butuhkan adalah pribadi-cyber yang benar-benar berbeda dari pribadimu di dunia nyata. Dalam hitungan 30 menit – dengan asumsi sinyal internetmu tidak lola (loading lama) – kau bisa membuat 20 e-mail untuk menciptakan 20 akun facebook atau twitter yang mewakili 20 hasratmu, atau 20 sisi gelapmu, yang berbeda-beda.

  • Nunc viverra elit risus, adipiscing placerat nibh malesuada nec.
  • Vivamus bibendum condimentum lacus, id fermentum dolor. Cras placerat nisl sed eros rutrum porttitor.

Misal begini; engkau memendam hasrat untuk melakukan petualangan asmara, tetapi kau tak bisa leluasa sebab ada anak dan istri. kini kau bisa membuat akun di facebook. Disaat itu yang kau butuhkan hanyalah pencitraan. Orang di dunia cyber yang belum pernah bertemu denganmu di dunia nyata dan tidak benar-benar tahu siapa dirimu, mereka akan menafsirkanmu dari caramu menulis status, menulis komentar, menulis notes, foto dan dari interaksi tekstual dari wall ke-wall. Engkau tidak perlu cemas orang akan tahu siapa dirimu di dunia nyata. Di wall, beranda, kau bisa mengekspresikan banyak hal. Boleh jadi, dengan bantuan syeikh google, kau bisa citrakan dirimu sebagai orang bijaksana dan bijaksini, melalui metode copas sana copas sini dari berbagai kata mutiara, kutipan bijak, hingga puisi yang bisa dengan mudah kau cari melalui syeikh google, atau semisal engkau aslinya pendiam di dunia nyata, di dunia cyber kau bisa menjadi perayu ulung. semisal di dunia nyata kau dianggap orang alim, karena menyandang gelar ustadz, pak haji, pak yai, atau apa saja yang menjadi sebutan terhormat, di dunia cyber kau bisa menjadi petualang asmara. di wall kau mengkhotbahkan tentang hal-hal religius, tentang spiritualitas, tentang makna kesetiaan, tentang kebijaksanaan, dan pada saat yang sama, engkau menebarkan jerat pesona.

Dengan asumsi dari ribuan akun di daftar friend, kau berharap ada satu atau dua orang yang terpesona padamu. Ada juga fasilitas privasi, dengan fasulitas ini engkau bisa merayu seseorang melalui inbox, atau direct message, sehingga tanpa kau sadari tiba-tiba kau merasa ada tempat khalwat yang nyaman untuk memadu asmara tanpa ketahuan istrimu, anakmu, atau suamimu. Disaat yang bersamaan istri atau suamimu hanya bisa melihat wallmu, yang penuh tulisan kebijaksanaan, tetapi mereka tak bisa melihat isi inboxmu, yang berisi penuh rayuan gombal dan mungkin kata-kata cabul. Oleh karenanya, barangkali kita bertanya-tanya, berapa banyak perselingkuhan terjadi melalui inbox jejaring sosial semacam ini?

Kemungkinan selanjutnya, kau bisa gunakan rayuanmu dengan cara lain, untuk mengeruk keuntungan finansial. Sebagai contoh engkau punya 25 akun. satu atau dua akunmu merayu orang-orang kesepian yang telah berkeluarga, dan akunmu yang lain bertindak sebagai tukang peras. Akunmu yang berfungsi pemeras ini akan mengancam korban, barangkali korban dipaksa mentransfer sejumlah uang ; Jika dia tidak meng-iya-kan, percakapan perselingkuhan di inbox akan dicopas dan disebar ke publik via wall bahaya bukan?! ini ancaman menakutkan, sebab dalam jejaring sosial selalu ada fasilitas tag, tandai, retweet, send, dan sebagainya. Bayangkan saja jika percakapan perselingkuhanmu dibaca anak, istri atau suamimu?

Di musim pilkada, sangat mungkin jejaring sosial bisa menjadi rimba orang-orang tanpa identitas sejati. Foto palsu, profil palsu, pribadi palsu, citra palsu, nama palsu dan seterusnya yang serba palsu. Berapa banyak orang yang sudah punya anak dua, tiga atau empat, lima, bahkan dua belas, mengaku masih bujangan, atau bahkan tanpa kenal malu merayu perempuan lain tanpa peduli perempuan itu sudah bersuami atau belum? berapa banyak orang yang sengaja memasang foto diri 15 tahun yang lalu, atau foto hasil olahan photoshop yang membuat tampang menjadi lebih cling/kinclong, demi kepentingan mencari pacar atau selingkuhan? berapa banyak orang yang tidak begitu mengerti politik kemudian membuat akun-akun calon kepala daerah atau tim sukses untuk mencitrakan calon atau menjelek-jelekkan calon lain yang menjadi rivalnya demi mencari dukungan dari masyarakat? berapa banyak orang yang terbiasa hidup dalam lingkungan yang penuh pembatasan moral, mendadak menjadi pribadi yang lain yang siap melanggar setiap batasan moral melalui jejaring sosial?. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah waspada, berhati-hati dengan setiap person yang meng-Add akun kita untuk dimasukkan dalam list pertemanannya, jangan mudah terbawa dengan postingan/komentar seseorang yang belum benar-benar kita kenal, dan tidak kalah pentingnya mari kita mulai jujur dengan akun kita juga aktifitas kita apapun itu.

Sepuluh tahun yang lalu orang bicara tentang split personality (kepribadian yang terbelah) di dunia cyber. Dirimu di ruang sosial nyata menjadi diri yang berbeda di ruang sosial cyber. Semakin banyak orang yang menjadi-semacam-amfibi, hidup di dua dunia, dengan pribadi yang jauh berbeda. Itu sepuluh tahun lalu, ketika percakapan dan interaksi sosial cyber masih terbatas pada teks sebagai sarana utama (semisal via Mirc atau mailing list). Sekarang, dengan makin canggihnya jejaring sosial, orang-orang mulai cemas: split personality, atau orang dengan pribadi yang terbelah, menjadi semakin banyak. yang lebih mencemaskan, orang bisa “membelah diri” menjadi lebih dari dua pribadi yang berbeda. Psikolog mulai khawatir, jika seseorang tidak bisa lepas dari hal ini, orang akan mudah mengalami disorientasi diri. Dan dampaknya orang-orang akan makin tidak mengenali dirinya yang sesungguhnya. Orang akan lebih akrab serta mengenali hasrat-hasrat dan hawa nafsu dirinya yang dijelmakan dalam bentuk akun jejaring sosial. Jika orang lebih mengenal hasrat nafsunya ketimbang dirinya yang sejati, bayangkan betapa mewabahnya kemunafikan sosial yang akan tercipta di dunia sosial nyata. Ya, di dunia nyata. Sebab, kita tahu apa yang terjadi di dunia cyber dan berdampak langsung atau tidak langsung pada dunia nyata, dan karena ini adalah dunia yang nyaris tanpa sekat norma sosial dan ruang, sangat mungkin kita akan berkesempatan mendengar kabar-kabar ajaib tentang efek negatif dari kemunafikan sosial di jejaring sosial ini. Atau, barangkali kita pernah sudah pernah mendengarnya? Atau bahkan sering kita mendengarnya?

Walhasil, berapa akun facebook, Twitter dan instagrammu? Benarkah akun facebook, twitter dan instagram mu adalah kamu?

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.