Senin (10/08/2020), telah terlaksana Penutupan Praktik Kerja Lapangan (PKL) Prodi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab Institut Agama Islam (IAI) Sunan Giri Bojonegoro melalui aplikasi Zoom Meeting. Sehingga, mahasiswa tetap bisa saling bertatap wajah meskipun dilaksanakan secara Daring. Acara dimulai pada pukul 10.00 – 11.30 WIB.

Secara resmi, PKL ditutup oleh Rektor IAI Sunan Giri Bojonegoro M. Jauharul Ma’arif, M.Pd.I. Hadir dalam penutupan PKL di antaranya Dekan Fakultas Adab Dr. Imroatul Azizah, M.Ag., Ketua Prodi BSA Nurul Musyafaah, S.S. M.Pd.I, Sekretaris Prodi BSA Nilna Indriana, S.S. M.A., Saeful Anwar, M. Fil.I., Devi Eka Diantika, M.Pd., H. Miftakhul Mufid, M.Pd.I., Malia Fransisca, M.Pd.I., serta 22 mahasiswa BSA. Penutupan PKL juga dihadiri dari pihak museum Mpu Tantular. Drs. Edi Iriyanto, M.M. Kepala Museum Mpu Tantular dan Sadari, S.Sn. Kasi Preparasi dan Bimbingan Edukasi.

Allify Rohmatul Ummah, dari perwakilan mahasiswa menyampaikan usaha maksimal dalam pelaksanaan PKL melalui Daring. “Sekalipun pelaksanaan PKL BSA ini dilakukan secara Daring dengan pihak Museum Mpu Tantular Sidoarjo, namun kami berusaha untuk melaksanakannya secara maksimal dan dapat terselesaikan dalam waktu sebulan sesuai dengan yang telah ditargetkan, meskipun masih ada kekurangannya.”

“Mungkin akan lebih maksimal lagi, seandainya PKL ini dilaksanakan secara Luring di Museum Mpu Tantular. Kami tentunya bisa lebih intens untuk mengetahui dan lebih mengenal, baik dengan pihak Museum ataupun obyek yang menjadi sasaran tugas kami. Walaupun begitu kami sangat bersyukur bisa bersinergi dengan Museum Mpu Tantular,“ ujar Allify.

Rektor IAI Sunan Giri Bojonegoro, Dekan Fakultas Adab, Ketua Prodi BSA menyampaikan rasa terima kasih atas kerjasama yang terjalin antara pihak IAI Sunan Giri Bojonegoro dengan Museum Mpu Tantular. “Kami berharap kerjasama ini bisa berlanjut di tahun-tahun berikutnya dengan peningkatan kualitas serta output yang lebih baik lagi. Salut dengan statement yang dikeluarkan oleh perwakilan mahasiswa PKL (Burhan), yang mengatakan bahwa teks manuskrip merupakan hidangan bagi mahasiswa BSA sehingga sudah menjadi kewajiban untuk diolah dan dikembangkan,” tegas Bapak Rektor. [Dela Winda Setiara]