Pandemi Covid-19 belum usai. Physical distancing menjadi salah satu upaya untuk mencegah merebaknya virus mematikan tersebut. Rutinitas kehidupan yang sempat terhenti, kini mulai mulai berangsur normal, meskipun belum sepenuhnya. Masyarakat mulai terbiasa dengan sistem Dalam Jaringan (Daring).

Mulai dari berbelanja kebutuhan sehari-hari, pembelajaran sekolah, rapat dinas, bahkan pernikahan. Baru-baru ini masyarakat dihebohkan dengan adanya wacana fenomena pernikahan Daring. Perihal tersebut banyak mengundang pro dan kontra yang menjadi topik hangat di kalangan masyarakat. Oleh karena itu, mahasiswa Fakultas Syariah IAI Sunan Giri Bojonegoro berinisiatif untuk mengadakan Webinar Series dengan mengusung tema “Problematika Perkawinan Daring di Era New Normal”.

Peserta Webinar seri pertama ini selain dari kalangan mahasiswa IAI Sunan Giri Bojonegoro, turut dihadiri para pejabat KUA dan masyarakat umum. Webinar yang dibawakan oleh Burhanatut Dyana, S.Sy., M.H., mengundang Kepala Kantor Kemenag Bojonegoro Drs. H. Suhaji, M.Si., serta Dosen Hukum Keluarga Islam, Agus Sholahuddin, M.H.I., sebagai pemateri. Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis (23/07/2020) ini berlangsung dengan sangat menarik.

Fenomena pernikahan Daring saat ini mengundang perbedaan pendapat di kalangan ulama. Letak perbedaannya adalah pada ijab qobul harus menyambung dan dilakukan dalam satu majelis. Kata kuncinya adalah pernikahan harus dilakukan dalam satu majelis. Persyaratan tersebut tidak ada dalilnya. Hal tersebut hanya bersifat sebagai tambahan (idhofi), yang mana fungsinya adalah untuk menopang syarat-syarat pernikahan yang lain. Jadi, bisa saja melakukan pernikahan secara Daring. Namun, perlu memperhatikan syarat-syarat, serta dampak kemudharatannya.

Di sisi lain, Drs. H. Suhaji, M.Si., selaku Kepala Kemenag Bojonegoro menegaskan bahwa jangan sampai di antara kita ada yang mempraktikkan pernikahan secara Daring. Hal ini sebagai bentuk kehati-hatian, karena dikhawatirkan akan menimbulkan banyak ketimpangan dan mudharat. Jadi dapat disimpulkan bahwa pernikahan harus tetap dilaksanakan secara Luar Jaringan (Luring), dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 dan saling jaga jarak. Wallahu a’lam bisshawab. [Firda Rizka Rachma Wahdani]

Visits: 209