Institut Agama Islam (IAI) Sunan Giri Bojonegoro merupakan perguruan tinggi swasta berbadan hukum yang mengelola bidang akademik dan non akademik secara otonom di bawah naungan LP3TNU. IAI Sunan Giri didirikan Nadhlatul Ulama dan berbadan hukum BHPNU dan berkedudukan di Jalan Jenderal Ahmad Yani Nomor 10 Bojonegoro Provinsi Jawa Timur Indonesia. Institut Agama Islam Sunan Giri Bojonegoro sendiri berdiri pada tanggal 5 Nopember 2014 Masehi bertepatan dengan tanggal 12 Muharram 1436 Hijriyah berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 6266 Tahun 2014, merupakan perubahan dari Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sunan Giri Bojonegoro berdasarkan Keputusan Menteri Agama Nomor 316 Tahun 1995, tertanggal 13 Juli 1995, yang sebelumnya adalah Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Sunan Giri Bojonegoro yang didirikan di Bojonegoro berdasarkan Keputusan Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya selaku Ketua Kopertais Wilayah IV Nomor 354/K/F-9/1987 pada tanggal 17 Oktober 1987 Masehi bertepatan dengan 2 Rabi’ul Awal 1380 Hijriyah.

Sejarah Institusi
a. Masa Kelahiran
Pada rapat kerja yang diselenggarakan oleh PCLP Ma’arif dengan mengundang para Kortan, Mabin, Kepala Madrasah/Sekolah pada bulan Juli 1985, di Pondok Pesantren Abu Dzarrin, Kendal, dan dihadiri oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) LP Ma’arif Jakarta Bapak Musa Abdillah dibahas berbagai permasalah yang dihadapi LP Ma’arif Bojonegoro, termasuk keinginan mendirikan pergurun tinggi yang berlokasi di gedung Ma’arif Jl. Ahmad Yani.
Keputusan pendirian perguruan tinggi merupakan tugas berat bagi PCLP Ma’arif Bojonegoro yang tidak mungkin dikerjakan sendiri tanpa dukungan dari warga Nahdliyin.
Pembukaan perguruan tinggi di Bojonegoro PWLP Ma’arif menganjurkan kepada PCLP Ma’arif Bojonegoro untuk berkosultasi dengan Bapak Drs. Muhijiddin Soewondo, MA, Pembantu Rektor I Universitas Sunan Giri ( Unsuri ) Surabaya yang notabene merupakan universitas milik NU Jawa Timur.
Kerjasama pembukaan Fakultas Tarbiyah Unsuri di Bojonegoro dengan syarat telah mendapatkan rekomendasi pendirian perguruan tinggi dari Bupati Bojonegoro. Tindaklanjut dari hasil konsultasi tersebut PCLP Ma’arif Bojonegoro mengajukan surat permohonan rekomendasi ijin pendirian perguruan tinggi kepada Bupati Bojonegoro dengan nomor surat PC/30/A-8/VII/1986, tertanggal 3 Juli 1986, yang kemudian diterima rekomendasi dari Bupati Bojonegoro Bapak Drs. Soedjito, dengan nomor surat 421.4/2908/421.16/86, tertanggal 13 September 1986.
Seiring kerja yang dilakukan PCLP Ma’arif, PCNU Bojonegoro pun menindaklanjuti kesepakatan yang telah ditetapkan dengan melaksanakan turba ke MWC-MWC NU mensosialisasikan pendirian perguruan tinggi NU Bojonegoro. Sehubungan dengan pendeknya waktu dan luasnya wilayah Bojonegoro, maka dibentuk beberapa kelompok tim turba dengan jadwal yang padat, hampir setiap malam dikirim tim turba PCNU ke MWC-MWC dan tokohtokoh NU setempat.
Disela-sela padatnya agenda kegiatan, PCNU juga menyempatkanwaktu mengundang para sarjana NU dan alumni PMII untuk diajak rembug tentang pendirian perguruan tinggi NU di rumah Bapak Kusairi Ridwan (Sukorejo), pada tgl. 8 Juni 1986.
Penerimaan mahasiswa baru Unsuri Surabaya Fakultas Tarbiyah untuk tahun ajaran 1986/1987, yang pendaftarannya dibuka mulai 1 Juli s/d 30 Juli 1986. Selanjutnya PCLP Ma’arif menerbitkan Surat Keputusan nomor: PC/26/A8/SK/VII/1986, tertanggal 9 Juli 1986, tentang Dewan Pembina Fakultas Tarbiyah Unsuri di Bojonegoro. Hasil dari rapat bersama PCLP Ma’arif dengan PCNU Bojonegoro.
Waktu berikutnya, Team Formatur yang dibentuk dari hasil musyawarah gabungan antara PCLP Ma’arif, PCNU, bersama para sarjana NU Bojonegoro mengirim surat permohonan kerjasama kepada Rektor Unsuri Surabaya, tertanggal 9 Juli 1986. Permohonan tersebut mendapat tanggapan baik dengan diterbitkannya Surat Keputusan Rektor Unsuri Surabaya Nomor: 245/D.15/U/1986, tertanggal 13 Agustus 1986, serta Surat Keputusan Pendirian Fakultas Tarbiyah Unsuri di Bojonegoro, Nomor: 359/D.09/U/1986, tertanggal 31 Oktober 1986, dengan Struktur Organisasi Pimpinan Fakultas Tarbiyah Unsuri di Bojonegoro.
Pimpinan Fakultas Tarbiyah Unsuri di Bojonegoro tampaknya masih berkeinginan tidak hanya membuka fakultas keguruan agama (Fakultas Tarbiyah) saja, tetapi juga berkeinginan membuka Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) bekerjasama dengan Universitas Islam Malang (Unisma). Maka dibuka serentak pendaftaran calon mahasiswa baru tahun ajaran 1986/1987dua fakultas, yakni Fakultas Tarbiyah bekerjasama dengan Unsuri Surabaya dan FKIP Jurusan Bahasa Inggris bekerjasama dengan Unisma.Secara tidak terduga, alhamdulillah lewat kerjasama yang kompak antara PCLP Ma’arif berserta PCNU, peminat Fakultas Tarbiyah Unsuri di Bojonegoro lebih dari 207 calon mahasiswa baru dan sekitar 23 calon mahasiswa baru untuk FKIP Unisma.
Dalam setahun perjalanannya, dibuka peluang pembukaan perguruan tinggi baru di daerah-daerah kabupaten oleh Koordinator Perguruan Tinggi Agama Islam (Kopertais) Wilayah IV dibawah koordinasi Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya. Oleh Pimpinan Fakultas Tarbiyah Unsuri di Bojonegoro peluang ini dimanfaatkan dalam rangka mambangun kemandirian Fakultas Tarbiyah, Unsuri di Bojonegoro melepaskan diri dari Unsuri Surabaya dengan persayaratan-persyaratan, diantaranya adanya yayasan pendiri perguruan tinggi yang dibuktikan dengan Akta Notaris, serta memiliki gedung tempat penyelenggaraan perkuliahan, dan mahasiswa.
Untuk melengkapi persyaratan tersebut PCLP Ma’arif bermusyawarah dengan PCNU Bojonegoro membuat yayasan penyelenggara perguruan tinggi yang diberi nama Yayasan Universitas Sunan Giri (Unsuri) Bojonegoro agar tidak terjadi perubahan nama Fakultas Tarbiyah Unsuri yang sudah menjadi merek dagang selama setahun, lalu mendaftarkan kepada Notaris Yatiman lewat surat resmi PCLP Ma’arif Bojonegoro Nomor: PC/77/A2/IV/1987, tertanggal 25 April 1987, dan terdaftar di Notaris Yatiman dengan nomor register 185/1987.
Kemudian Yayasan Unsuri Bojonegoro mengajukan surat permohonan kepada Yayasan Unsuri Surabaya agar Fakultas Tarbiyah Unsuri di Bojonegoro diserahkan secara sepenuhnya, mandiri menjadi milikYayasan Unsuri Bojonegoro. Permohonan itu ditanggapi dengan terbitnya Surat Keputusan Yayasan Unsuri Surabaya yang ditandatangani oleh dr. Mohammad Thohir selaku Ketua Yayasan, tentang Penyerahan Fakultas Tarbiyah Sunan Giri di Bojonegoro kepada Yayasan Unsuri Bojonegoro dan persetujuan penggunaan nama “Sunan Giri”, Nomor: 007/YAY/UNS/1990, tertanggal 7 Februari 1990, yang berlaku surut mulai tanggal 10 Nopember 1987.
Berbekal surat rekomendasi Bupati tentang pendirian perguruan tinggi, Akta Yayasan Unsuri Bojonegoro, lokasi gedung penyelenggaraan perkuliahan dan mahasiswa, didaftarkanlah Fakultas Tarbiyah Sunan Giri Bojonegoro ke Kopertais Wilayah IV yang kemudian terbitlah Surat Keputusan Izin Operasional Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta (PTAIS) yang ditandatangani oleh Rektor IAIN Sunan Ampel selaku Ketua Kopertais, Nomor: 354/K/F-9/P/87, tertanggal 23 Oktober 1987, bersamaan dengan Fakultas Tarbiyah Unmuh Bojonegoro.
Demi memantapkan status kepemilikan gedung tempat penyelenggaraan pendidikan, PCLP Ma’arif bersama PCNU Bojonegoro terus melanjutkan upaya agar kontrak sewa gedung PPLP Ma’arif di Jl. Ahmad Yani Bojonegoro tidak diperpanjang dan akan digunakan sendiri untuk pendidikan di lingkungan PCLP Ma’arif, di bawah koordinasi PWLP Ma’arif dan PWNU Jawa Timur. Upaya ini terus berlanjut mulai ditetapkan keputusan rapat gabungan PCLP Ma’arif dengan PCNU Bojonegoro bulan Juli 1985, lewat lika-liku negosiasi yang panjang antara PWLP Ma’arif/PWNU Jawa Timur dengan pihak Departemen Agama dan PGAN Bojonegoro.
Perjuangan tersebut akhirnya memiliki kekuatan hukum dengan diterbitkan Surat Keputusan PPLP Ma’arif nomor: PP/I-A/SK/096/III/1988, tentang Penyerahan Penggunaan Gedung PPLP Ma’arif di Bojonegoro kepada PCLP Ma’arif Bojonegoro. Kemudian PCLP Ma’arif Bojonegoro menerbitkan Surat Keputusan Nomor: PC/74/I-A/SK/VIII/1989, tertanggal 31 Agustus 1989, tentang Tata Aturan Penggunaan Kampus Ma’arif Bojonegoro. Tata aturan penggunaan kampus Ma’arif perlu diterbitkan karena kompleks kampus Ma’arif tersebut digunakan kegiatan perkantoran, pendidikan formal, pendidikan informal, asrama, dan rapat atau kegiatan lain yang diselenggarakan oleh keluarga besar NU Bojonegoro.
Melihat perkembangan Fakultas Tarbiyah Unsuri di Bojonegoro yang menampakkan tanda-tanda terus meningkat, maka Yayasan Unsuri Bojonegoro mencoba mengimbangi dengan memasang dosen-dosen berkualitas, termasuk dari luar Bojonegoro, dengan Surat Keputusan Nomor: 07/Kep/Yy.U/IX/1989, tertanggal 1 Januari 1989.

b. Masa Perkembangan
Dipermulaan perjalannya, Yayasan Unsuri dan Pimpinan Fakultas Tarbiyah Sunan Giri Bojonegoro tertatih-tatih berjuang mencukupi dana penyelenggaraan pendidikan. Kondisi yang serba terbatas, baik dari segi fasilitas, sarana-prasarana ataupun dana, menuntut perjuangan dan kerja keras dari para pengurus Yayasan, Pimpinan Fakultas dan karyawannya untuk mempertahankan eksistensi perguruan tinggi yang diidam-idamkan oleh seluruh warga NU Bojonegoro. Pihak Yayasan berusaha mencukupi kebutuhan minimal dari pelaksanaan akademik, sementara pihak Pimpinan dan karyawan Fakultas diharap senantiasa bersabar dalam keprihatinan terkait dengan fasilitas pendidikan dan kesejahteraan kerja.
Sementara dukungan dana dari mahasiswa lewat syahriyah semakin menurun seiring terseleksinya mereka karena keterbatasan kemampuan ekonomi. Pada tahun ke dua jumlah mahasiswa aktif di Fakultas Tarbiyah Unsuri di Bojonegoro tertinggal 90 lebih.Kondisi tertatihtatih ini berimbas dengan keterpaksaan menghentikan penyelenggaran pendidikan untuk FKIP Unisma pada tahun ketiga karena ketidakmampuan pihak Yayasan yang masih harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk mendatangkan banyak dosen terbang ( dari luar Bojonegoro ). Walhasil, mahasiswa FKIP Unisma di Bojonegoro angkatan ke-1 dan ke-2 ditarik untuk menyelesaikan perkuliahan di Malang.
Tahun ajaran ketiga Fakultas Tarbiyah Sunan Giri Bojonegoro berjalan,terbit Peraturan Menteri Agama RI No. 3 Th. 1987, disusul SK Menteri Agama RI No. 44 Th. 1988 yang mendorong Yayasan Unsuri Bojonegoro menerbitkan Surat Keputusan nomor: 21/KG/Y.U/II/1990, tertanggal 6 Pebruari 1990, tentang perubahan nama Fakultas Tarbiyah Unsuri di Bojonegoro menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Sunan Giri Bojonegoro. Perubahan ini disikapi dengan serius oleh pihak Yayasan dengan menyelenggarakan reorganisasi untuk meningkatkan kinerjanya.
Pada tanggal12 Desember 1992, di tengah kepemimpinan Bapak Drs. Nursalim, STIT Sunan Giri Bojonegoro melaksanakan Wisuda Sarjana Agama pertama dengan jumlah 39 wisudawan.Wisuda ini tampaknya menjadi wisuda pertama dan terakhir pada periode kepemimpinan Bapak Drs. Nursalim karena beliau telah menjabat dua kali menjadi Ketua STIT Sunan Giri. Selanjutnya, kepemimpinan pada periode 1994-1997 oleh Drs. Tauhid.
Pada periode kepemimpinan Drs. Tauhid STIT Sunan Giri Bojonegoro mengajukan penambahan jurusan Mu’amalah yang mendapat rekomendasi dari Kopertais Wilayah IV nomor: 191/III.2/95, tertanggal 13 Juni 1995, untuk diajukan kepada Menteri Agama RI melalui Dirjen Binbaga Islam, yang disusul terbit Surat Keputusan Menteri Agama RI nomor: 316 Th. 1995, tertanggal 13 Juli 1995, tentang Perubahan STIT Sunan Giri Bojonegoro menuju Sekolah Tinggi Agama Islam ( STAI ) Sunan Giri Bojonegoro.Dengan adanya perubahan ini Yayasan Unsuri Bojonegoro berupa membangun fasilitas kantor yang memadai untuk STAI dengan mengajukan surat kepada PPLP Ma’arif nomor: 635/KG/YU/XI/1996 dan nomor 37/KG/YU/XII/1996 tentang Ijin Membangun Gedung Baru, yang kemudian dibalas pemberian ijin oleh PPLP Ma’arif nomor: PP/430/SU/XII/1996, tertanggal 14 Desember 1996. Dalam periode ini pula dilaksanakan wisuda S1 Sarjana Pendidikan Islam.
Periode 1997-2001, berdasarkan Surat Keputusan Yayasan nomor: 08/KEP/YU/VIII/1997, tertanggal 25 Agustus 1997, STAI Sunan Giri Bojonegoro dipimpin oleh Drs. H. Karno Hasan. Untuk periode berikutnya tahun 2002-2006, Yayasan menetapkan kembali Pimpinan STAI Sunan Giri Bojonegoro di bawah kepemimpinan Bapak Drs. H. Karno Hasan.
Mencermati perkembangan STAI Sunan Giri Bojonegoro yang mulai meningkat lebih baik dan untuk mengimbangi gerak positif itu Yayasan Unsuri menyelenggarakan reorganisasi untuk periode kepengurusan 2002-2007 dengan kepemimpinan KH. Achwan Affandi. Pada tahun akademik 2001/2002 status STAI Sunan Giri Bojonegoro sudah terakreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional Perdidikan Tinggi (BAN PT) Depdiknas dan berikutnya, sesuai dengan Peraturan Pemerintah nomor: 19 Tahun 2005, tentang Standar Nasional Pendidikan. Setiap lima tahun STAI Sunan Giri Bojonegoro selalu memperbarui status akreditasinya. Momen akreditasi pertama ini digunakan oleh pimpinan STAI dan Yayasan Unsuri Bojonegoro untuk berbenah diri dengan memperbaiki dan menambah sarana prasana akademik, seperti ruang kantor beserta sarana dan komputerisasi data, ruang kuliah serta perpustakaan.
Mulai tahun akademik 2003-2004 STAI Sunan Giri Bojonegoro membuka Program Diploma II (PGSD/MI) berdasarkan Surat Keputusan Kopertais Wilayah IV nomor: 119/SK/KOP.IV/1003, tertanggal 01 Mei2003, disusul tahun akademik berikutnya 2004-2005 membuka Program Akta IV untuk memperoleh piagam akta mengajar bagi mahasiswa jurusan non pendidikan, berdasarkan Surat Keputusan Kopertais Wilayah IV nomor: 3074/SK/KOP.IV/2004, tertanggal 06 Juli 2004.
Selama periode kedua kepemimpinan Bapak Drs. H. Karno Hasan MM, dilaksanakan wisuda S1 STAI Sunan Giri Bojonegoro. Pada periode ini STAI Sunan Giri Bojonegoro mendapat bantuan 2 (dua) dosen Diperbantukan (DPK) dari pemerintah, yaitu Ibu Imroatul Azizah M.Ag untuk Prodi Mu’amalah dan Bapak Drs. Muchlas M.Pd untuk Prodi Pendidikan Agama Islam.
c. Masa Pemantapan
Pada periode 2006-2010, berdasarkan Surat Keputusan Yayasan nomor: 06/KEP/YU/III/2006, tertanggal 15 Maret 2006, Pimpinan STAI Sunan Giri Bojonegoro dijabat oleh Drs. Moh. Munib, MM, M.Pd.I. Menghadapi periode kepengurusan Yayasan Unsuri Bojonegoro 2007/2012, dengan mempertimbangkan keadaan STAI Sunan Giri Bojonegoro yang semakin kondusif, maka dalam musyawarah Yayasan diputuskan untuk menegakkan kembali kedudukan dan tata organisasi Yayasan Unsuri, yang selama dua dasawarsa ditinggalkan, yakni bahwa kepengurusan Yayasan Unsuri Bojonegoro harus mendapatkan legitimasi dan mempertanggungjawabkan pengelolaan STAI Sunan Giri Bojonegoro kepada Pimpinan Pusat Lembaga Pendidikan Ma’arif NU (PP LPM-NU).
Sebagai tindaklanjut dari keputusan musyawarah tersebut maka Yayasan Unsuri Bojonegoro mengajukan pembentukan kepengurusan baru yang dikukuhkan oleh Surat Keputusan PPLP Ma’arif nomor: 161/SK/PP/LPM-NU/VII/2009, tertanggal 1 Juli 2009 M, bertepatan tanggal 8 Jumadil Akhir 1430 H. Menjelang usianya yang ke-20 pendidikan tinggi Sunan Giri Bojonegoro mulai menampakkan tanda-tanda kemapanan eksistensinya.
Hal ini terindikasi dari semakin stabilnya jumlah mahasiswa, baik yang masuk sebagai mahasiswa baru maupun wisudawan hasil didik, serta semakin kecilnya jumlah mahasiswa drop out.Ditambah dengan selalu dilaksanakan wisuda sarjana pendidikan pada setiap tahunnya dalam jumlah yang signifikan, bila dilihat jumlah wisudawan berasal dari mahasiswa dua program studi yang dimiliki, yakni Prodi Pendidikan Agama Islam dan Prodi Mu’amalah. Dalam periode kepemimpinan Bapak Drs. Moh. Munib, MM, MPdI dilaksanakan wisuda S1 STAI Sunan Giri Bojonegoro.
Yayasan Unsuri juga mulai meningkatkan sarana-prasaran pendidikan STAI Sunan Giri Bojonegoro. Diawali membangun kantor dan aula pada tahun 2006, dilanjutkan membangun gedung berlantai dua, serta melengkapinya dengan ruang laboratorium komputer, bahasa, micro teaching, dan musholla pada tahun 2008. Periode 2010-2014 terjadi pergantian pimpinan STAI Sunan Giri Bojonegoro berdasarkan Surat Keputusan Yayasan Unsuri Bojonegoro nomor: 03/UNSURI/BJN/SK/II/2010 di bawah kepemimpinan Drs. H. Badaruddin, M.Pd.I.
Melihat perkembangan STAI Sunan Giri Bojonegoro yang semakin mapan, Yayasan Unsuri berniat mewujudkan obsesinya untuk merintis pendirian universitas dengan diawali membuka Sekolah Tinggi Tehnik Nahdlatul Ulama (STT-NU) Bojonegoro. Untuk menentukan program studi yang dipilih dan proses pengajuannya dibentuk Panitia Pendiri yang diketuai oleh Bapak Dr. H. Mundzar Fahman. Dengan berbagai macam pertimbangan, baik dari sudut kebutuhan masyarakat maupun kemudahan dosen pengajar, maka Panitia Pendiri memilih S1 STT-NU dengan Program Studi Tehnik Mesin dan Tehnik Komputer.
Kemudian Panitia Pendiri mengajukan surat permohonan pembukaan STT-NU Bojonegoro kepada Departemen Pendidikan Nasional lewat Pendidikan Tinggi, nomor: 06/NU.STT/IV/2012, tertanggal 23 April 2012. Untuk melengkapipersyaratan pendirian pendidikan tinggi, dilakukan pendaftaran Yayasan Unsuri Bojonegoro ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham), yang kemudian diterima Piagam dari Kemenkumham nomor: AHU-119/AH-01.08.Tahun 2013, tertanggal 26Juni 2013. Namun selama ini belum ada jawaban dari Dikti.
Menghadapi situasi yang tidak jelas itu Yayasan Unsuri tidak patah arang untuk mewujudkan cita-cita mendirikan sebuah universitas NU di Bojonegoro. Dicari jalan lain dengan berkonsultasi kepada PBNU. Kebetulan sekali PBNU ingin mewujudkan program pendirian universitas NU di beberapa wilayah. Banyak sekali yang menjadi pertimbangan PBNU untuk menetapkan pendirian Universitas NU di Bojonegoro. Salah satu diantaranya adalah bahwa di Bojonegoro sudah ada pendidikan tinggi STAI Sunan Giri berlokasi di tanah dan bangunan milik LP M’arif NU yang terdaftar dalam badan hukum NU. Dengan bimbingan ketat dan rekomendasi dari PBNU, Yayasan mempersiapkan semua persyaratan pendirian sebuah universitas dan mempresentasikan dihadapan tim yang dibentuk Dikti. Jurusan yang diajukan oleh Yayasan Unsuri Bojonegoro untuk Universitas Nahdlatul Ulama (UNU), antara lain:
– Jurusan/Fakultas Tehnik: Prodi Tehnik Informatika; Prodi Tehnik Mesin Prodi Managemen Prodi Sistem Komputer Prodi Statistik.
– Jurusan/Fakultas Kesehatan: Prodi Farmasi.
– Jurusan/Fakultas Pendidikan: Prodi Pendidikan Bahasa Inggris; Prodi Pendidikan Matematika; Prodi Bimibingan dan Konseling; Prodi Pendidkan Jasmani dan Kesehatan.
Pada periode kepengurusan Yayasan Unsuri Bojonegoro tahun 2012/2017, PP LPM-NU melakukan pembenahan dan penyempurnaan dalam pembentukan pengurus Yayasan Unsuri dengan melibatkan semua pihak terkait, seperti PP LPM-NU, PW LPM-NU, PCNU dari unsur Syuriyah dan Tanfidziyah, PC LPM-NU, dan anggota pengurus Yayasan. Dari musyawarah itu dihasilkan susunan kepengurusan Yayasan Unsuri Bojonegoro yang kemudian disahkan oleh Surat Keputusan PPLP Ma’arif nomor: 254/PP/SK/LPM-NU/X/2012, tertanggal 03 Oktober 2012.
STAI Sunan Giri Bojonegoro pada perkembangan merespon tantangan untuk membesarkan perguruan tinggi dengan beralih status menjadi Institut Agama Islam (IAI) Sunan Giri Bojonegoro pada tahun 2014 sesuai SK Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor 6266 tahun 2016 dengan menambah 4 prodi baru yaitu Prodi Bahasa dan Sastra Arab/ Fakultas Adab, Prodi Hukum Keluarga Islam fakultas syari’ah, Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah dan Pendidikan Islam Anak Usia Dini di Fakultas Tarbiyah.
Saat ini, tonggak kepemimpinan IAI Sunan Giri Bojonegoro di bawah kepemimpinan M. Jauharul Ma’arif, M.Pd.I. Hasil reakreditasi kampus IAI Sunan Giri Bojonegoro telah turun bersamaan dengan reakreditasi Prodi Pendidikan Agama Islam, dan Hukum Ekonomi Syariah, per-tahun 2020.

Visi, Misi, Tujuan IAI Sunan Giri Bojonegoro

  • Visi Institut Agama Islam Sunan Giri Bojonegoro adalah: Terwujudkan Perguruan Tinggi Unggul Dalam Bidang Ilmu Keislaman Berbasis Riset, Berdaya Saing Global Dan Berkarakter Ahlusunnah Wal Jamaah.”
  • Misi Institut Agama Islam Sunan Giri Bojonegoro adalah: 1. Menyelenggarakan pendidikan yang bermutu dan berdedikasi dalam bidang ilmu Keislaman 2. Mengembangkan integritas ilmu keislaman berbasis ASWAJA 3. Menyelenggarakan riset untuk pengembangan ilmu keislaman 4. Melaksanakan pengabdian kepada masyarakat yang dapat meningkatkan sumber daya dan kesejahteraan manusia 5. Menyelenggarakan kerjasama dengan berbagai pihak dalam pelaksanaan tridharma perguruan tinggi 6. Menyelenggarakan pengelolaan tridharma perguruan tinggi yang amanah dan profesional. 7. Mengembangkan nilai aswaja dalam tataran akademik dan praksis di lingkungan kampus.
  • Tujuan Institut Agama Islam Sunan Giri adalah: a) Menghasilkan lulusan pendidikan yang bermutu dan berdedikasi dalam bidang ilmu Keislaman. b) Terselenggaranya pendidikan yang bermutu dan terintegritas keilmuan berbasis ASWAJA dan dapat diakses oleh semua kalangan. c) Terwujudnya riset dalam pengembangan ilmu keislaman. d) Menghasilkan produk riset dalam bidang ilmu keislaman. e) Menghasilkan kajian ilmu keislaman yang komprehensif dan integratif. f) Terwujudnya program pengabdian masyarakat yang berorientasi pada peningkatan sumber daya dan kesejahteraan manusia. g) Terwujudnya pengelolaan tridarma perguruan tinggi yang amanah dan profesional sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi. h) Terwujudnya kerjasama yang sinergis dengan berbagai pihak dalam pelaksanaan tridharma perguruan tinggi. i) Terwujudnya kerjasama program pertukuran mahasiswa dan dosen dalam bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat dengan perguruan tinggi dalam negeri maupun luar negeri. j) Terimplementasikannya nilai aswaja dalam tataran akademik dan praksis civitas akademika perguruan tinggi.
    Sumber: IAI_SGB/AIPT 2019
Visits: 66