Kurun waktu lebih dari tiga bulan, kita dihimbau pemerintah untuk belajar, bekerja dan beribadah di rumah. Akhirnya, sekarang ini kita dihadapkan pada kondisi new normal atau kehidupan normal yang baru.

Hal ini bukan berarti kembali normal seperti sebelum masa pandemi, tetapi memiliki makna bahwa kita dapat beraktivitas secara normal dengan menerapkan protokol kesehatan. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menetapkan kebijakan “Belajar dari rumah” atau “Learning from home”. Dengan adanya pandemi Covid-19 kita harus mampu beradaptasi dengan zaman serba digitalisasi.

Pascasarjana Prodi Magister PAI IAI Sunan Giri Bojonegoro mengupas kenormalan baru dari sisi merdeka belajar pada Webinar Nasional yang dilaksanakan Selasa kemarin (07/07/20). Webinar tersebut mengangkat tema Merdeka Belajar di Era New Normal.

Acara yang dibawakan oleh Dr. Hamam Burhanuddin, M.Pd.I. tersebut dihadiri oleh tiga narasumber luar biasa, yaitu Sekretaris Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI Dr. H. Imam Syafe’i, M.Pd., Guru Besar UIN Wali Songo Semarang Prof. Dr. H. Syamsul Ma’arif, M.Ag., serta Direktur Pascasarjana IAI Sunan Giri Bojonegoro Dr. Hj. Sri Minarti M.Pd.I.. Kegiatan tersebut dibuka oleh Rektor IAI Sunan Giri Bojonegoro M. Jauharul Ma’arif, M.Pd.I.

Menurut Dr. H. Imam Syafe’i, M.Pd., konsep Merdeka Belajar dapat diwujudkan dengan menggali potensi para pendidik dan peserta didik untuk berinovasi dan meningkatkan kualitas pembelajaran secara mandiri. Disinilah kualitas guru menjadi kunci utama.

Guru yang berkualitas dan berkompeten dapat mendorong kesuksesan belajar siswa. Guru tidak akan bisa digantikan oleh teknologi. Teknologi hanyalah alat bantu guru dalam meningkatkan potensi mereka dan menjadi penggerak terbaik untuk mereka dapat memimpin pendidikan di sekolah.

Oleh karena itu, konsep pelatihan guru perlu disesuaikan dengan kurikulum yang lebih fleksibel. Kurikulum yang dapat mendorong para guru agar dapat memilih materi atau metode pembelajaran dengan kualitas tinggi yang sesuai dengan tingkat kompetensi, minat, dan bakat masing-masing siswa.

Prof. Dr. H. Syamsul Ma’arif, M.Ag. memaparkan tentang kesiapan guru dalam merdeka belajar di era new normal. Menurut Beliau, guru merdeka harus bersikap visioner. Sebab, sebaik apapun kurikulum dan metode yang dirancang dalam konsep pendidikan Merdeka Belajar, jika gurunya tidak merdeka, maka tidak dapat memberikan pengaruh apapun bagi siswa.

Jadi, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengubah paradigma sang guru. Selain itu, pendidikan Merdeka Belajar juga harus memiliki strategi pembelajaran yang inovatif, kreatif, dan hybrid learning (kombinasi pembelajaran). Serta ditunjang oleh sistem kurikulum yang relevan dengan kehidupan nyata, sehingga siswa dapat menemukan jati dirinya secara mandiri.

Narasumber ketiga Dr. Hj. Sri Minarti M.Pd.I. menambahkan bahwa ada beberapa hal yang harus ditingkatkan. Pertama, kompetensi kepemimpinan, kolaborasi antar elemen masyarakat dan budaya. Kedua, infrastruktur dan pemanfaatan teknologi di seluruh satuan pendidikan.

Ketiga, perbaikan pada kebijakan, prosedur dan pendanaan. Keempat, penyempurnaan kurikulum, pedagogik dan asesmen.

Acara diakhiri dengan sesi diskusi atau tanya jawab dengan narasumber. Secara keseluruhan, acara terbilang sukses dan mampu diikuti lebih dari 300 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia. Webinar dapat disimak secara langsung melalui Zoom dan Youtube. [Firda Rizka R. W.]